Gula merah (brown sugar), gula jawa, brown sugar, palm sugar, berasal dari bermacam macam material. Di Indonesia, gula merah berasal dari kelapa, aren (enau), lontar (siwalan), nipah (rumbia), & tebu. Tidak Cuma diolah jadi gupa pasir (gula putih), tebu pun adalah bahan baku buat gula merah. Teknik pengkristalan & pemutihan gula (bleaching), baru ditemukan terhadap gula dari bahan bit di Eropa, kepada abad XVIII. Sampai sebelum abad XVIII, seluruh product gula, dari bahan apapun, senantiasa berwarna kecokelatan, & tak berbentuk kristal. Dari seluruh bahan gula, yg sanggup dibudidayakan dengan cara massal, serentak, dgn budget murah merupakan tebu. Tanaman ini ori India & Asia Tenggara, termasuk juga Indonesia. Sekarang Ini tebu telah dibudidayakan di seluruh kawasan tropis di dunia.

Tebu diproses jadi gula lewat step yang merupakan berikut
Batang ditebang, digiling, diambil airnya, air dipanaskan, sambil dibuang kotorannya, diputihkan dgn bermacam bahan pemutih (antara lain bersama belerang), & selanjutnya dikristalkan.
Pengkristalan dgn suhu mendadak didinginkan, bakal membuahkan kristal mungil.
Pengkristalan bersama menurunkan suhu dengan cara lambat, dapat membuahkan gula batu yg berkristal amat sangat gede.

Semuanya masihlah berwarna kecokelatan. Gula pasir yg berwarna kecokelatan inilah yg diimpor oleh pemerintah, & dinamakan gula rafinasi. Sebutan ini tak serasi, lantaran istilah gula rafinasi, berarti gula putih (gula mentah, raw sugar, yg telah dirafinasi). “Gula rafinasi lebih serasi dinamakan gula mentah, atau raw sugar.

Gula Rafinasi
Gula Rafinasi
Proses rafinasi raw sugar yakni, dgn mencuci (memurnikan), memutihkan, & mengkristalkan kembali, sampai jadi gula mengonsumsi. Sampai raw sugar sebenarnya tak pantas mengonsumsi. Sehingga pemerintah juga melarang raw sugar diperdagangkan yang merupakan gula pasir mengonsumsi. Larangan ini ada banyak dilanggar, termasuk juga pelanggaran bersama mengolah raw sugar jadi gula merah. sampai kini yg dikenal juga sebagai gula merah di Indonesia yakni gula kelapa, aren, lontar & tebu. Gula merah tebu yg berwarna gelap (cokelat kehitaman), paling tidak sedikit diserap oleh industri kecap. Sisanya masuk ke pasar mengkonsumsi biasa. Warga memerlukan gula merah kebanyakan utk pemanis masakan, minuman, & kue. Mereka tak sempat peduli asal-usul gula merah tersebut.

Tetapi ada kecenderungan, orang pilih gula merah yg berwarna cerah. Sehingga para pembuat gula pula mengkombinasikan gula pasir biasa (gula putih), ke dalam nira kelapa terhadap diwaktu sedang dipanaskan. Belakangan yg dicampurkan bukan gula pasir putih, melainkan raw sugar. Tidak Hanya utk mengkombinasikan gula kelapa, raw sugar serta dibuat gula batu. Para pembuat gula merah selanjutnya pun tahu, nyatanya raw sugar murni mampu direbus, seterusnya dicetak jadi gula merah.

Terhadap diwaktu perebusan dapat berlangsung oksidasi, sampai cairan gula jadi kecokelatan. Supaya energi buat proses ini dapat murah, dipakai sesedikit bisa jadi air. Akhirnya merupakan gula merah yg warnanya cerah & amat sangat menarik. Gula merah “rafinasi” inilah yg waktu ini tidak sedikit dijual hingga ke warung kaki lima.

Gula kelapa, aren, lebih-lebih lontar, kini jadi komoditas bersama nilai amat tinggi, & langka. Dikarenakan gula tersebut tidak sedikit diolah jadi gula semut (brown sugar crystal, palm sugar). Sebahagian produksi nira kelapa, aren, & lontar, benar-benar tetap dicetak jadi “gula merah tradisional” bersama beraneka ragam wujud, tetapi volumenya amat sangat mungil.

Gula merah original ini tetap sanggup dijumpai di sentra penghasil gula merah, jauh di pedalaman. Bahkan di ruangan yg telah termasuk juga pedalaman serta, telah dipasarkan gula merah berbahan baku tebu. Contohnya di kota Parakan, Kab Temanggung Jawa Tengah, dipasarkan gula merah yg dicetak bersama tempurung, & dikemas dgn daun aren. Nyatanya itu gula merah asal tebu dari Weleri, Kab Kendal. Masihlah baik, dikarenakan bahan bakunya tetap “tebu asli”.

Rasa palm sugar (kelapa, aren, lontar, nipah), bersama sugar cane (tebu), memang lah jauh beda. Tingkat kemanisannya lebih manis gula tebu, tetapi utk bahan kue, kolak, cendol, & lain-lain tingkat kelezatan gula tebu kalah dibanding gula palem (palm sugar). Indonesia sebenarnya dapat jadi pembuat palm sugar paling besar didunia.

Tatkala ini palm sugar Indonesia, cuma mendapati pesaing dari Srilanka, & Filipina, tapi volume produksi mereka pun masihlah rendah. Kurma pula sebenarnya pun sanggup disadap buat diambil niranya. Tetapi produksi gula merah dari kurma di Timur Tengah pun masihlah teramat mungil. Kelebihan Indonesia yaitu, kita miliki empat kategori palma yg sanggup membuahkan palm sugar. Sementara negeri tropis lain, termasuk juga Filipina, tak miliki palma penghasil gula selengkap & jumlahnya Indonesia.

Hambatan mutlak peningkatan produksi palm sugar yaitu masalah pemanjatan utk membawa nira. Nira palma diambil (disadap) dari bunga. Kelapa, lontar, & nipah, dari “manggarnya” (manggar = malai bunga palma), sementara aren disadap dari tangkai bunganya, sementara malainya justru dibuang. Buat naik turun membawa nira kelapa, aren & lontar, dipakai energi amat tinggi, bersama risiko luar biasa akbar.

Korban paling tidak sedikit menimpa para penyadap nira kelapa. Sementara aren & lontar relatif aman, sebab para penyadap memasang “sligi” (tangga tunggal dari bambu). Pemerintah daerah, semestinya memperhatikan factor ini, antara lain bersama mengajak para penggemar alam, buat memberikan training pemakaian pengaman

Advertisements