Tulisan ini sengaja aku untuk sesudah selesai menciptakan Roti Challah, yang merupakan rasa penasaran aku bakal keunikannya menjalin 6 gulung adonan roti jadi satu, & alhamdulilah sukses persis seperti gambar di atas, namun sangat disayangkan belum pernah terdokumentasi, keburu diserang oleh para bocah & ipar ku diwaktu berbuka puasa di rumah. Heheheh..laper apa doyan. Tidak Jarang kali kita mendengar orang berbicara “ngapain repot repot bikin kue sendiri, toh di luar pun telah tidak sedikit yg jual”. Kalau dikaji lebih ulang benar-benar benar, namun para bocah protes kue kue di luar tak seenak buatan di rumah & kebetulan saya pun hobbie menciptakan kue, hingga sempat kala merayakan ultah sibocah saat masihlah duduk di TK, ibu ibu bertanya beli kue ultahnya di mana..hmmmm padahal aku sendiri yg utk heheheh ketipu mereka. Namun maaf aku tak terima order pesanan, sebab cuma sekedar hobbie saja heheheheh. Kita kembali ke topik semula ya….Challah ialah satu buah roti yg dikepang dengan cara kusus & dikonsumsi oleh orang Yahudi buat Shabbat & hri libur. Menurut kebiasaan Yahudi makanan hri Shabat & libur dimulai bersama memberkati dua roti tumpuk ini utk memperingati roti manna yg jatuh dari surga, disaat orang Israel terjadi di tengah gurun tatkala 40 th sesudah melarikan diri dari Mesir. Challah tradisional memanfaatkan tidak sedikit telur, tepung putih & gula. & buat resep modis memanfaatkan lebih sedikit telur & tepung putih hasilnya ditukar dgn tepung terigu, oat atau spelt (sejenis gandum). Kadang madu & sirup gula pun ditambahkan juga sebagai pemanis. Adonan roti digulung & dianyam sebelum dibakar. Kadang dibubuhi biji bunga popi maupun wijen sebelum dibakar. Namun utk resep yg aku utk biji popi & wijen ditukar bersama parutan keju chedar & adonan rotipun dibuat dgn adonan basic roti manis biasa.

Advertisements