BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Remaja memiliki rasa ingin tahu yang tidak habis-habisya mengenai misteri seks. Mereka bertanya-tanya,apakah mereka memiliki daya tertarik seksual,bagaimana caranya berperilaku seksi, dan bagaimana kehidupan seksual mereka di masa depan (Santrok,2007). Remaja merupakan masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) yang sampai sekarang masih banyak dikutip orang. Permasalahan yang sering terjadi pada remaja salah satunya ialah perilaku seksual. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

National Surveys of Family Growth pada tahun 1988 melaporkan bahwa 80% laki – laki dan 70% perempuan melakukan hubungan seksual selama masa puberitas. Ada sekitar 53% perempuan berumur antara 15 – 19 tahun melakukan hubungan seksual pada masa remaja (Yuniarti,2007). Data survei mengenai perilaku seksual remaja juga hasilnya cukup mencengangkan. Dalam sebuah artikel di internet memaparkan mengenai hasil survei yang dilakukan Dr.Rachmat terhadap kesehatan reproduksi remaja yang dilakukan pada tahun 2007 remaja usia 15-19 tahun baik putra maupun putri tidak sedikit yang sudah pernah melakukan hubungan seksual (Vera,2010). Data terhadap 10.833 remaja laki-laki berusia 15-19 tahun didapatkan data sebesar 72% sudah berpacaran,92% sudah pernah berciuman,62% sudah pernah meraba-raba pasangan,10,2% sudah pernah melakukan hubungan seksual. Sedangkan haril survey dari 9.34 remaja putri yang berusia 15-19 tahun didapatkan data sebesar 77% sudah berpacaran,92%sudah pernah berciuman,62% pernah meraba-raba pasangan,dan 6,3% telah melakukan hubungan seksual. Hasil survei BKKBN tahun 2010 di sejumlah kota besar di Indonesia, rata-rata hampir 50% sudah melakukan seks pranikah.  Jakarta angkanya 51%, Surabaya 54%, Bandung 47%, dan Medan 52%. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Sejumlah data penelitian menunjukan bahwa remaja mempunyai angka terbesar dalam melakukan aktivitas hubungan seksual. Fenomena ini jelas sangat mengkhawatirkan orang tua dan masyarakat. Sebab, meskipun seksualitas  merupakan bagian normal dari perkembangan,tetapi prilaku seksual tersebut disertai resiko-resiko yang tidak hanya ditanggung oleh remaja itu sendiri melainkan juga oleh orang tua dan masyarakat. (Desmita,2008) http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Menurut Sarlito W Sarwono (Muriyani,2009), perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang di dorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Perilaku seksual adalah manifestasi dari perasaan seksual yang sangat kuat, sebagai perubahan dari hormonal yang mengiringi masa puber, Monks (Nurul,2009) menjelaskan perubahan hormonal pada masa puber mempengaruhi munculnya perilaku seksual. Perubahan hormonal yang terjadi pada masa puber mengakibatkan kematangan pada organ kelamin, yang memunculkan hasrat seksual. Hasrat seksual meningkat sebagai akibat rangsang-rangsang seksual yang semakin mudah diterima akibatnya. Peningkatan dorongan atau hasrat seksual membutuhkan cara atau sarana untuk disalurkan dan penyaluran hasrat seksual memberi kenikmatan bagi individu yang melakukannya, baik dilakukan dengan orang lain atau dengan diri sendiri. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Secara umum perilaku seksual remaja dipengaruhi oleh peningkatan hormon-hormon seksual yang meningkat juga menyebabkan peningkatan dorongan seksual pada remaja. Dorongan seksual muncul dalam bentuk ketertarikan pada lawan jenis dan keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual dari pasangannya. Adanya suatu peningkatan hormon-hormon seksual dipengaruhi juga adanya suatu kematangan seksual yang juga merupakan salah satu yang mempengaruhi perilaku seksual http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Hasil penelitian Puspita (2008) memaparkan beberapa hal yang menjadi dasar remaja melakukan hubungan seksual tersebut. Remaja pria dan wanita memiliki alasan-alasan yang berbeda, antara lain, dipaksa (Wanita 61 % dan Pria 23%), merasa sudah siap (Wanita 51% dan Pria 59%), Butuh dicintai (Wanita 45% dan Pria 23%) dan takut diejek teman karena masih gadis atau perjaka (wanita 38% dan Pria 43%). Hubungan seksual pada remaja putri lebih beresiko daripada seorang laki-laki, data dari berbagai penelitian tentang perilaku seks remaja yang dilakukan para pakar sexologi pada tahun 1985 oleh Sudiat dari RS Dr. Kariadi Semarang dalam laporan penelitiannya melaporkan bahwa kelainan genekologis pada remaja putri usia 13-20 yang memeriksakan diri, sebagian besar yaitu 32% dari 859 mengalami kerusakan selaput darah (Hymen) karena dorongan benda keras , lunak, yang diperkirakan karena hubungan persenggamaan (dalam Putri,2009). http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Dampak melakukan hubungan seksual diluar nikah tidak hanya mengakibatkan kerusakan fisik,tapi juga psikis,hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian yang menunjukan perilaku seks pranikah memberikan dampak hilanganya harga diri seseorang wanita yang dilakukan Subandriyo (Puspita,2008) yaitu penderitaan kehilangan keperawanan (82 %), rasa bersalah (51%), merasa dirinya kotor (63%), tidak percaya diri (41%), dan rasa takut tidak diterima (59%). http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Sementara akibat psikososial yang timbul akibat perilaku seksual antara lain adalah ketegangan mental dan kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah, misalnya pada kasus remaja yang hamil di luar nikah. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela dan menolak keadaan tersebut. Selain itu resiko yang lain adalah terganggunya kesehatan yang bersangkutan, resiko kelainan janin dan tingkat kematian bayi yang tinggi. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Pendidikan seks bagi remaja sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tabu, terutama di negara dengan budaya timur seperti Indonesia. Pengetahuan mengenai masalah seks yang seharusnya bersumber dari orang tua, tidak tersampaikan dengan baik. Akibatnya, banyak remaja yang notabene sedang mengalami baik perubahan fisik maupun hormon berusaha mencari tahu sendiri melalui berbagai sumber. Sebagaimana dipaparkan Elizabeth B Hurlock (1980), informasi mereka coba dipenuhi dengan cara membahas bersama teman-teman, buku-buku tentang seks, atau mengadakan percobaan dengan jalan masturbasi, bercumbu atau berhubungan seksual. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

 

Dampak dari hal tersebut,terjadinya pembentukan paradigm yang salah tentang fungsi dan peran seks itu sendiri, yang pada akhirnya terbentuklah poa perilaku seksual yang negatif dan membahagiakan bagi remaja sendiri yang memicu masalah yang cukup serius saai ini yaitu pergaulan bebas. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Berkaitan dengan hal tersebut pemberian layanan bimbingan dan konseling untuk memberikan pemahaman mengenai masalah-masalah perilaku seksual yang benar perlu diberikan kepada siswa baik di sekolah maupun keluarga sebagai wahana awal pendidikan seks bagi siswa. Hal ini diaksud agar remaja tidak mencari infomasi tentang masalah seksual dari orang lain atau sumber-sumber yang diragukan kebenarannya atau bahkan tidak sama sekali. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Layanan bimbingan dan konseling diharapkan membantu peserta didik dalam pengenalan diri, pengenalan lingkungan dan pengambilan keputusan, serta memberikan arahan terhadap perkembangan siswa. Salah satu fungsi bimbingan dan konseling ialah fungi preventif (pencegahan). Syamsu & Juntika (2005) memaparkan fungsi preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh peserta didik. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada siswa tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya terutama dalam masalah perilaku seksual sehat. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Konseling realitas sebagai strategi dalam upaya konselor untuk meningkatkan perilaku seksual sehat remaja. Konseling realitas memiliki prinsip dasar tentang manusia yang pada hakekatnya adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dasar dan dalam kehidupannya mereka berusaha memenuhi kebutuhan tersebut.”Kebutuhan dasar manusia meliputi kebutuhan bertahan hidup (survival),mencintai dan dicintai (love and belonging), kekuasaan atau prestasi (power or achievement),kebebasan atau kemerdekaan (feedom or independence),dan kesenangan (fun) (Corey,2009), http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Konseling realitas bertujuan untuk membantu individu belajar memenuhi kebutuhannya dengan cara yang baik, yang meliputi kebutuhan mencintai dan dicintai, kekuasaan atau berprestasi, kebebasan atau independensi,serta kebutuhan untuk senang. Sehingga mereka mampu mengembangkan identitas berhasil (success identity). http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Jika dihubungkan dengan fenomena perilaku seksual yang tidak sehat yang terjadi pada remaja saat ini, maka konseling realitas dapat membantu siswa dalam meningkatkan perilaku seksual sehat dengan mengarahkan perilaku siswa pada prinsip 3R, yaitu right,responsibility, dan reality (Ramli dalam Nurfarhanah,2011). Right merupakan nilai atau norma patokan sebagai pembanding untuk menentukan apakah suatu perilaku benar atau salah. Responsibility merupakan kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya tanpa mengganggu hak-hak orang lain. Reality merupakan kesediaan individu untuk menerima konsekuensi logis dan alamiah dari suatu perilaku sehingga siswa memiliki pemahaman,kesadaran,dan peningkatan tentang perilaku seksual sehat. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Hasil penelitian Nurfarhanah mengungkapkan program konseling kelompok dengan pendekatan konseling realitas, ternyata efektif untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang perilaku seksual sehat (Nurfarhanah,2011). http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Dilandasi fenomena perilaku seksual yang tidak sehat pada remaja diatas peneliti tertarik untuk meneliti mengenai perilaku seksual remaja oleh karena itu  dalam penelitian ini menggunakan konseling realitas dalam meningkatkan perilaku seksual sehat remaja. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

 

  1. Identifikasi dan Rumusan Masalah

Pada masa remaja terdapat beberapa perubahan fisik yang cukup signifikan mempengaruhi kehidupan seksualnya. Kematangan organ-organ seksual dan perubahan-perubahan hormonal mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual dalam diri remaja. Dorongan seksual remaja ini sangat tinggi, dan bahkan lebih tinggi dari dorongan seksual orang dewasa. Sebagai anak muda yang belum memiliki pengalaman tentang seksual,tidak jarang dorongan-dorongan seksual ini menimbukan ketegangan fisik dan psikis. Sejalan dengan meningkatnya minat terhadap kehidupan seksual, remaja selalu berusaha untuk mencari informai objektif mengenai seks. Oleh karena itu, hal yang paling membahayakan adalah jika informasi yang diterima remaja berasal dari sumber yang kurang tepat yang merupakan akibat dari kekurangan pemahaman remaja terhadap masalah seksual. Kekurang pahaman ini akan memunculkan perilaku seksual remaja yang tidak sehat dan tidak bertanggung jawab tanpa mempertimbangkan akibatnya. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Syamsu & Juntika (2005) memaparkan fungsi preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh peserta didik. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada siswa tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan yang membahayakan dirinya terutama dalam masalah perilaku seksual. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Konseling realitas sebagai strategi dalam upaya konselor untuk meningkatkan perilaku seksual sehat remaja. Konseling realitas memiliki prinsip dasar tentang manusia yang pada hakekatnya adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dasar dan dalam kehidupannya mereka berusaha memenuhi kebutuhan tersebut. Konseling realitas bertujuan untuk membantu individu belajar memenuhi kebutuhannya dengan cara yang baik. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Berdasarkan pemaparan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka rumusan umum pokok permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu “Apakah efektif  konseling realitas dalam meningkatkan perilaku sehat pada remaja di sekolah SMA Pasundan 8 Bandung Tahun ajaran 2011/2012”. Penjabaran rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

  1. Bagaimana gambaran perilaku seksual siswa SMA Pasundan 8 Bandung Tahun ajaran 2011/2012.
  2. Bagaimana rancangan konseling realitas untuk meningkatkan perilaku seksual sehat siswa SMA Pasundan 8 Bandung Tahun ajaran 2011/2012.
  3. Bagaimana keefektifan konseling realitas dalam meningkatkan perilaku seksual sehat siswa di SMA Pasundan 8 Bandung Tahun ajaran 2011/2012.

 

 

  1. Definisi Operasional Variabel
  2. Perilaku seksual

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik yang dilakukan sendiri, dengan lawan jenis maupun sesama jenis tanpa adanya ikatan pernikahan menurut agama Sarwono (2003).

Perilaku seksual adalah perilaku yang didasari oleh dorongan seksual segala kegiatan yang bertujuan untuk mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku Imran (1992). http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

Perilaku seksual sehat merupakan tujuan dari perkembangan seksualitas seseorang. Adapun yang dimaksud dengan sehat menurut Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) adalah sehat secara fisik,psikologis dan sosial (Imran,1999).

Dalam penelitian ini perilaku seksual yang sehat yang dimaksud adalah segala perbuatan yang dilakukan remaja untuk memenuhi dorongan seksual yang dilakukan berdasarkan pertimbangna sehat menurut aspek fisik,psikologis, dan sosial . Adapun indikator perilaku seksual sehat adalah sebagai berikut. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

  1. Sehat secara Fisik antara lain :
  • Tidak tertular penyakit
  • Tidak menyebabkan kehamilan sebelum menikah
  • Tidak menyakiti dan merusak kesehatan orang lain

 

 

  1. Sehat secara psikis meliputi :
  • Memiliki integrasi yang kuat/memiliki kesesuaian antara nilai sikap dan perilaku
  • Memiliki kepercayaan diri
  • Menguasai informasi tentang kesehatan reproduksi
  • Mampu mengambil keputusan perilaku dengan mempertimbangkan segala resiko yang muncul
  • Mampu berkomunikasi dengan baik
  1. Sehat secara sosial meliputi :
  • Mampu mempertimbangkan nilai-nilai sosial yang ada disekitarnya dalam menampilakan perilaku tertentu (agaman,budaya,sosial)
  • Mampu menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan nilai, norma,dari keyakinan yang dianut
  • Menunjukan penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain
  • Mempu mengendalikan dan mengontrol diri
  • Mampu mempertahankan diri dari pengaruh teman sebaya atau pacar dari hal-hal yang negatif
  • Memahami konsekuensi tingkah laku dan siap menerima resiko tingkah laku yang dijalani
  1. Konseling Realitas

Konseling realitas adalah suatu sistem yang difokuskan pada tingkah laku sekarang. Konselor sebagai guru dan model serta mengonfrontasikan konseli dengan cara-cara yang bisa membantu konseli menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain (Corey,2009).

Pendekatan konseling realitas menekankan bahwa “Semua perilaku dihasilkan dalam diri mereka sendiri untuk memenuhi tujuan satu atau lebih kebutuhan dasar” (Glasser, 1984 dalam Gladding ).

Koseling realitas bisa ditandai sebagai konseling yang aktif secara verbal. Prosedur-prosedurnya difokuskan pada kekuatan-kekuatan dan potensi-potensi konseli yang dihubungakan dengan tingkah lakunya sekarang dan usahanya untuk mencapai keberhasilan dalam hidup. Konselor bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut: http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

  1. Terlibat dalam permainan peran dengan konseli
  2. Menggunakan humor
  3. Mengonfrontasikan konseli dan menolak dalih apapun
  4. Membantu konseli dengan merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan
  5. Bertindak sebagai model dan guru
  6. Memasang batas-batas dan menyusun situasi konseling
  7. Menggunakan “terapi kejutan verbal;” atau sarkasme yang layak untuk mengonfrontasikan konseli dengan tingkah lakunya yang tidak realistis.
  8. Melibatkan diri dengan konseli dalam upaya mencari kehidupan yang lebih efektif

 

  1. Tujuan dan Manfaat Penelitian
  2. Tujuan

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi mengenai efektivitas konseling realitas dalam meningkatkan perilaku seksual sehat remaja di SMA Pasundan 8 Bandung Tahun ajaran 2011/2012.

Berdasarkan tujuan umum, penulis menjabarkan lagi tujuan tersebut ke dalam beberatujuan khusus, maka secara spesifik penelitian bertujuan memperoleh gambaran empiris tentang :

  1. Tingkat perilaku seksual sehat siswa di SMA Pasundan 8 Bandung Tahun ajaran 2011/2012.
  2. Rancangan konseling realitas untuk meningkatkan perilaku seksual sehat siswa di SMA Pasundan 8 Bandung Tahun ajaran 2011/2012.
  3. Efektivitas konseling realitas untuk meningkatkan perilaku seksual sehat siswa di SMA Pasundan 8 Bandung Tahun ajaran 2011/2012
  4. Manfaat

Setelah rumusan tujuan dapat tercapai, maka penelitian ini dapat memberikan manfaat secara teoritis dan praktis. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

  1. Secara Teoritis :

Dari hasil penelitian ini juga diharapkan berguna untuk mengembangkan wawasan pengetahuan secara teoritis dan menemukan pemikiran konseptual serta dapat menambah wawasan ilmu dalam bidang Psikologi, Bimbingan dan Konseling khususnya mengenai pemahaman perilaku seksual sehat pada remaja, juga dapat memberikan sumbangan terhadap dunia pendidikan, khususnya dalam upaya bimbingan pribadi untuk meningkatkan perilaku seksual sehat remaja di SMP Negeri 5 Bandung http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

  1. Secara Praktis :
  • SMA Pasundan 8 Bandung dapat memberikan masukan mengenai bagaimana gambaran pemahaman perilaku seksual sehat siswa.
  • Konselor sekolah dapat dijadikan suatu pedoman sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan layanan dasar bimbingan dan konseling khusunya dalam meningkatkan pemahaman perilaku seksual sehat remaja
  • Peneliti dapat memperoleh bekal cara penanganan permasalahan perilaku seksual remaja dan juga mengetahui keadaan lapangan
  • Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan dapat dijadikan sebagai masukan dan memeperkaya informasi bagi para civitas akademika khususnya di Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan mengenai profil dan perkembangan pemahaman perilaku seksual sehat remaja. http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

 

 

 

 

  1. Asumsi Penelitian

Asumsi atau anggapan dasar dalam suatu penelitian merupakan pegangan sebagai titik tolak dari proses yang dilakukan dalam penelitian. Peneliti mengadakan penelitian ini dengan asumsi bahwa : http://dewapancingikan.blogspot.co.id/

  1. Tugas perkembangan pertama yang berhubungan dengan seks yang harus dikuasai adalah pembentukan hubungan baru dan lebih matang dengan lawan jenis (Hurlock,1980).
  2. Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap lawan jenis sangat dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan fisik selama periode pubertas (Santrock, 2007). http://dewapancingikan.blogspot.co.id/
  3. Meningkatnya minat seks,mendorong ramaja selalu berusaha mencari lebih banyak informasi tentang seks, atau mengadakan percobaan dengan cara membahas dengan teman-teman, buku tentang seks, atau mengadakan percoba jalan masturbasi, bercumbu, atau bersenggama (Hurlock,1980). http://dewapancingikan.blogspot.co.id/
  4. Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik yang dilakukan sendiri, dengan lawan jenis maupun sesama jenis tanpa adanya ikatan pernikahan menurut agama Sarwono (2003).
  5. Dalam konseling realitas seorang individu harus bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan (Colledge,2002).
  6. Menurut Glasser (Dalam Corey,2009) dasar dari konseling realitas adalah membantu konseli dalam memenuhi kebutuhan dasar psikologis yang mencakup “kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk merasakan bahwa kita berguna baik bagi diri kita maupu bagi orang lain”. http://dewapancingikan.blogspot.co.id
Advertisements